Rabu, 4 Februari 2026

Oase Hijau di Tengah Beton: Menjaga "Napas" Jakarta lewat Ekowisata Mangrove

JAKARTA – Di balik deretan gedung pencakar langit dan kemacetan Jakarta Utara, terdapat sebuah benteng alami yang bekerja dalam sunyi. Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk bukan sekadar tempat berfoto bagi warga kota, melainkan mesin ekologis vital yang menjaga Jakarta dari ancaman krisis lingkungan.

Berdasarkan hasil penelitian terbaru kami di kawasan tersebut, mangrove bukan lagi sekadar pelengkap estetika kota, melainkan infrastruktur hijau yang menyediakan empat manfaat utama bagi keberlangsungan hidup warga Jakarta.

image

4 Benteng Hijau Jakarta: Manfaat Utama Mangrove

Untuk memahami mengapa kawasan ini begitu krusial, kita perlu menilik empat jasa ekosistem utama yang dihasilkan:

1. Paru-Paru Biru (Penyerap Karbon):

Mangrove di Angke Kapuk bekerja sebagai penyerap emisi karbon (Blue Carbon) yang jauh lebih efektif dibandingkan hutan daratan. Di tengah tingginya polusi udara Jakarta, hutan ini adalah pabrik oksigen alami.

2. Sabuk Pengaman Pesisir (Penahan Abrasi):

Akar-akar mangrove jenis Rhizophora mucronata yang rapat di lokasi ini mengikat sedimen dengan kuat. Ini adalah pertahanan pertama Jakarta dalam mencegah pengikisan daratan oleh air laut dan meredam energi gelombang.

3. Rumah Keanekaragaman Hayati (Habitat Satwa):

Kawasan ini adalah rumah bagi Monyet Ekor Panjang, biawak, hingga burung air seperti Kuntul dan Pecuk Padi. Kehadiran mereka menjadi indikator bahwa pesisir Jakarta masih memiliki titik kehidupan alami yang sehat.

4. Ruang Detoks Perkotaan (Jasa Budaya & Rekreasi):

Melalui fasilitas boardwalk (jembatan kayu), warga bisa menikmati wisata pemulihan (healing) sekaligus mendapatkan edukasi lingkungan tanpa merusak akar napas mangrove.

image

Tantangan di Balik Pesona Wisata

Meskipun penerapan prinsip ekowisata di TWA Angke Kapuk masuk dalam kategori baik, popularitas kawasan ini membawa tantangan baru. Masalah sampah kiriman dari laut dan perilaku pengunjung yang memberikan makanan manusia kepada monyet ekor panjang menjadi perhatian serius. Pemberian makanan dapat merusak insting alami satwa dan menciptakan ketergantungan yang berbahaya bagi ekosistem.

Masyarakat Lokal sebagai Penjaga Gawang

Salah satu kunci keberhasilan yang kami temukan dalam studi ini adalah keterlibatan masyarakat lokal melalui Kelompok Tani Flora Mangrove. Warga Kamal Muara dan sekitarnya tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga aktor utama dalam pembibitan dan perawatan hutan. Hal ini membuktikan bahwa ekowisata yang sukses adalah ekowisata yang menyejahterakan warga di sekitarnya.

Menuju Ekowisata Masa Depan

Agar manfaat mangrove ini tidak hilang, diperlukan strategi "Nudge Tourism"—pendekatan halus untuk mengarahkan perilaku pengunjung. Misalnya, menggunakan informasi interaktif berbasis QR Code yang menceritakan peran setiap pohon dalam mitigasi perubahan iklim, bukan sekadar papan larangan yang kaku.

TWA Angke Kapuk adalah bukti bahwa manusia dan alam bisa hidup berdampingan di tengah tekanan pembangunan. Melestarikan mangrove bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan Jakarta tetap "bernapas" di masa depan.

 

Dibuat Oleh: Elysa Widyastuti & Nur Gilang Buana

Magister Studi Lingkungan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa