CILEGON, BabeBanten - Ketua Fraksi Gerindra DPRD Cilegon, Fauzi Desviandy, mendukung rencana pengiriman sampah ke Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPSA Cilowong, Kota Serang.
Menurut dia, peningkatan volume sampah yang terus terjadi setiap di Kota Cilegon berpotensi menjadi bom waktu apabila tidak segera diantisipasi.
Fauzi menjelaskan, berdasarkan data yang diterimanya, timbulan sampah di Kota Cilegon saat ini mencapai sekitar 350 hingga 400 ton per hari. Sementara dalam skema kerja sama pengelolaan sampah regional, sekitar 300 ton sampah per hari direncanakan dikirim ke fasilitas PSEL mulai 2029.
“Jumlah penduduk Cilegon ini terus bertambah. Ketika jumlah penduduk bertambah, maka sampah yang ditimbulkan pasti akan meningkat. Nah ini yang maksud saya bom waktu,” kata Fauzi dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (21/5/2026).
Fauzi bilamg, proyek PSEL merupakan bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) yang telah disepakati Pemerintah Provinsi Banten bersama Pemerintah Kota Cilegon, Kabupaten Serang, dan Kota Serang. Karena itu, ia menilai pemerintah daerah perlu mendukung program tersebut sebagai bagian dari solusi jangka panjang pengelolaan sampah.
“Ini kan Program Strategis Nasional. Gubernur Banten dengan tiga kepala daerah setempat sudah melakukan MoU yang juga disaksikan pemerintah pusat. Artinya bagaimana kita mendukung program Pak Presiden Prabowo dan Pak Gubernur Banten agar semuanya selaras,” ungkapnya.
Menanggapi kebutuhan anggaran sekitar Rp39 miliar untuk mendukung proyek tersebut, Fauzi mengatakan bahwa pembahasannya masih berada pada tahap persiapan sehingga seluruh aspek pembiayaan masih dapat dikaji secara mendalam sebelum direalisasikan.
“Kalau yang dipermasalahkan anggaran, ini kan masih tahap preparation atau persiapan. Masih bisa dikaji dan dihitung-hitung terlebih dahulu,”jelasnya.
Ia menjelaskan, biaya pengiriman sampah ke fasilitas PSEL perlu dibandingkan dengan potensi pengurangan biaya operasional pengelolaan sampah di TPSA. Sebab, apabila sekitar 300 ton sampah per hari dikirim ke fasilitas pengolahan, volume sampah yang ditangani di lokasi eksisting akan berkurang secara signifikan.
“Kalau sekarang mengelola 350 sampai 400 ton per hari, kemudian 300 ton dikirim, berarti yang dikelola tinggal sekitar 50 sampai 100 ton per hari. Tentu ada biaya operasional yang berkurang juga. Itu yang harus dihitung secara menyeluruh,” paparnya.
Fauzi juga menyinggung kondisi armada pengangkut sampah yang sebagian telah berusia sekitar 10 tahun dan membutuhkan peremajaan. Menurutnya, kebutuhan operasional seperti armada dan biaya pengiriman harus menjadi bagian dari perhitungan sebelum program dijalankan.
Selain persoalan kapasitas, ia juga menyoroti dampak lingkungan yang ditimbulkan dari penumpukan sampah. Menurutnya, keluhan terkait bau dari lokasi pembuangan sampah masih sering dirasakan masyarakat, terutama saat musim hujan dan kondisi angin tertentu.
“Kalau musim hujan atau kondisi tertentu, bau dari lokasi sampah bisa sampai ke wilayah permukiman warga. Itu juga sudah menjadi dampak yang harus diperhatikan,” ujarnya.
Fauzi menambahkan, persoalan sampah tidak bisa terus ditunda mengingat volume sampah akan terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk. Karena itu, pemerintah daerah perlu mulai menyiapkan solusi jangka panjang agar persoalan tersebut tidak menjadi beban yang lebih besar di masa mendatang.
“Yang penting sekarang bagaimana kita menyiapkan solusi untuk persoalan sampah ke depan. Karena jumlah penduduk bertambah dan timbulan sampah juga akan terus meningkat,” pungkasnya.(Arie)