Minggu, 23 Agustus 2026

Gunakan Batubara, PLTU Suralaya Disebut Salah Satu Penyumbang Polusi Udara di Jakarta

Cerobong PLTU Suralaya, Kota Cilegon, Banten.(Foto: Istimewa)

BabeBanten - Jakarta sedang berusaha mengurangi polusi udara dari berbagai sisi.Warga diminta menggunakan transportasi umum, kendaraan listrik mulai diperbanyak, dan konektivitas transportasi tengah diperbaiki.

Namun, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengingatkan, beragam cara tersebut belum cukup untuk membuat udara Jakarta lebih bersih.

Menurut Pramono, ada sumber emisi lain yang berada di luar Ibu Kota, tetapi ikut memengaruhi kualitas udara Jakarta.Salah satunya berasal dari industri di wilayah penyangga yang masih menggunakan batu bara.

“Problemnya bukan hanya semata-mata transportasi di Jakarta. Ada persoalan-persoalan lain, misalnya pembakaran industri-industri di selingkaran Jakarta, salah satunya yang terkenal adalah Suralaya, yang menggunakan bahan bakar yang masih tidak ramah lingkungan,” kata Pramono usai menghadiri acara Indonesia International Transport Summit 2026 di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).

Pramono mengatakan selama ini pemerintah memang terus membenahi sektor transportasi sebagai salah satu cara mengurangi emisi. Hasilnya, penggunaan transportasi umum di Jakarta disebut terus meningkat.

Pramono menyebut angkanya kini sudah lebih dari 31 persen, naik dari sekitar 23 persen sebelumnya. Konektivitas transportasi Jakarta juga telah mencapai 93 persen.

Selain itu, Pemprov DKI mendorong penggunaan kendaraan listrik untuk mengurangi emisi dari kendaraan bermotor.

Namun, menurut Pramono, langkah tersebut tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah jika sumber emisi di wilayah sekitar Jakarta masih dibiarkan.

“Jadi, apa pun yang dilakukan pemerintah di dalam Jakarta dengan membuat mobil listrik, transportasinya diperbaiki, orang yang dulu naik transportasi pribadi ke transportasi umum, menurut saya belum sepenuhnya akan menyelesaikan kalau di suburban area atau daerah yang melingkupi Jakarta ini masih diizinkan untuk industrinya menggunakan pembangkit listrik tenaga batubara,” ujarnya. 

Pramono kemudian menyebut kawasan Suralaya, Kota Cilegon, Banten sebagai salah satu contoh sumber emisi dari kawasan sekitar Jakarta.

Dia menyoroti penggunaan bahan bakar yang masih tidak ramah lingkungan pada industri di wilayah tersebut.

Bagi Pramono, persoalan ini menjadi penting karena penanganan polusi Jakarta tidak bisa hanya dilakukan berdasarkan batas wilayah administrasi.

Karena itu, sumber emisi yang berada di sekitar Jakarta juga perlu diperhatikan untuk memperbaiki kualitas udara Ibu Kota.

Pramono berharap pemerintah pusat ikut turun tangan. Dia ingin ada koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah-daerah di kawasan aglomerasi Jakarta untuk mengendalikan sumber emisi yang masih tinggi.

“Saya sebagai Gubernur Jakarta berharap bahwa ada juga koordinasi dengan pemerintah pusat agar yang memberikan kontribusi menyebabkan emisi yang masih tinggi itu bisa diatur bersama-sama,” kata Pramono.

Menurut Pramono, Pemprov DKI tidak bisa sendirian menyelesaikan persoalan polusi. 

Menurut dia, langkah yang dilakukan dari dalam Jakarta akan sulit maksimal jika sumber emisi dari wilayah penyangga masih terus ada.

 

 

 

 

 

Berita ini telah tayang di kompas.com, dengan judul: Pramono Sebut PLTU Suralaya Banten Ikut Bikin Polusi Jakarta